Welcome to NenkDyDy...

Yuk cari tau tentang dunia kesehatan, tips, atau bahkan tulisan iseng aku di sini...moga smuanya bisa bermanfaat yaa dan...selamat menikmati... ^^
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 25, 2015

Rain Before Sunshine - Part 4

Tok … Tok … Tok …
“Del, kamu udah bangun sayang?”
“Udah Ma.”
“Kamu jadi mau anter Mama ke toko kan?”
“Iya Ma. Tunggu ya, aku mandi dulu.”
“Jangan lama-lama ya sayang. Mama ada janji sama klien nih.”
“Oke. 20 menit lagi aku turun.”

Suara Mama membangunkan Delza dari tidur lelapnya. Biasanya ia tak mau diganggu saat hari libur. Tapi untuk kali ini lain. Kemarin ia sudah berjanji untuk mengantarkan Mama-nya ke toko souvenir milik keluarganya, yang telah dirintis sejak Papa-nya pensiun 2 tahun lalu. Ia sendiri mulai merasa bosan diam di rumah di hari Minggu ini. Tak ada salahnya mencari suasana baru. Lagipula ia belum pernah mampir ke sana sejak toko selesai direnovasi bulan lalu. Kemarin-kemarin ia hanya mendengarkan konsep dekorasi toko yang dirancang oleh kakaknya, Anye.

                                                                                    * * *

I’ll remember you
When I’ve forgotten all the rest
You to me were true
You to me were the best
When there is no more
You cut to the core
Quicker than anyone I knew
When I’m all alone in the great unknown

I’ll remember you
I’ll Remember You – Nana Mouskouri

Lagu lama itu mengalun lembut dari CD player. Delza memang seorang pecinta lagu-lagu lama dari era sang mama remaja. Sejak kecil ia sudah terbiasa mendengar lagu-lagu tersebut bersama mamanya. Tiba-tiba volume musik terdengar lebih kecil. Dari sudut pandang matanya, ia melihat tangan sang mama yang menekan tombol volume.

“Loh, kenapa dikecilin Ma musiknya?”
“Del, kayaknya udah lama Mama gak liat kamu bahagia ya.”
“Maksud Mama?”
“Iya, udah lama rasanya Mama ngeliat kamu senyum-senyum seneng setiap hari. Rasanya udah 5 tahun kamu gak seceria biasanya.”
Delza menarik napas panjang, mulai mengerti kemana arah pembicaraan sang mama.
“Aku bahagia kok Ma sama hidup aku sekarang.”
“Bahagia gimana Del?”
“Iya, aku punya karir yang cukup bagus di rumah sakit, pasien aku juga udah mulai banyak. Itu aja udah bikin aku seneng Ma.”
“Iya sayang, tapi itu aja gak cukup untuk bikin kamu bener-bener bahagia. Mama pengen liat kamu mulai perbaiki kehidupan pribadi kamu lagi Nak.”
“Iya, nanti ya Ma kalau udah waktunya.”
“Kapan toh? Kamu itu cantik, punya karir cemerlang, masa gak ada yang deket?”
“Belum ketemu yang cocok aja Ma.”
“Terakhir, siapa itu, yang suka main ke rumah, yang temennya si Fahri itu?”
“Arka Ma.”
“Iya, kayaknya anaknya baik ya, sopan gitu sama orang tua, cakep lagi. Terus udah mapan juga kan ya dia.”
“Iya Ma.”
“Lah, terus kok sekarang gak pernah maen lagi ke rumah? Kamu tolak ya?”
“Belum sreg akunya Ma.”
“Jangan lama-lama toh nduk. Kamu itu perempuan, inget umur. Jangan inget-inget masalah sama si Rein dulu itu. Hidupmu masih panjang.”
“Iya Ma, aku juga udah lupain itu kok. Nanti kalau udah nemu yang cocok pasti aku kenalin ke Mama.”
Sejujurnya hati aku masih sakit Ma setiap inget kejadian Rein dulu, aku belum siap untuk sakit hati lagi, batin Delza.
Beruntung jarak rumahnya ke toko souvenir tidak begitu jauh, sehingga pembicaraan tersebut berakhir seiring mobil Delza memasuki area parkir toko.

Senin, Agustus 24, 2015

Rain Before Sunshine - Part 3

“Del, model kebaya yang ini bagus gak?”
“Bagus kok Dies. Kesannya simpel tapi elegan. Kayaknya cocok banget deh sama kepribadian lo.”
“Kalau yang ini?”
“Ini juga boleh. Modelnya unik. Bikin lo keliatan beda banget gitu. Manglingi kalau kata orang Jawa.”
“Hmm, menurut lo, gw ambil yang mana ya?”
“Kalau saran gw sih, mending lo ambil yang pertama buat akad nikah-nya. Kan acaranya agak-agak serius gimana gitu. Jadi pas aja keliatannya. Tapi ya tergantung lo juga sih lebih sreg-nya ke mana.”
“Eh Del, temennya Fahri ada yang mau kenalan tuh sama lo.”
“Yang mana lagi Dies? Si Arka itu? Gak bosen-bosen ya tuh orang gw tolak.”
“Hahaha, bukan bu. Yang ini beda. Namanya Bowo. Dia itu sahabat baik Fahri waktu jaman kuliah.”
“Beda gimana maksud lo? Ntar ujung-ujungnya sama lagi kayak si Arka.”
“Ya beda dong. Kalau kemaren si Arka itu orangnya emang agresif banget. Gw akuin, gw salah rekomendasiin dia ke lo. Mau gak?”
“Gw lagi gak mau mikir ke arah situ dulu Dies. Lagi banyak gawean nih gw.”
“Ye, ni anak main tolak-tolak aja. Ntar nyesel loh kalau nge-lepas yang ini. Lagian kapan sih lo gak banyak gawean Del.”
“Bukan gitu Dies, gw cuma lagi males aja ngurusin yang gituan. Lagi pengen nikmatin hidup dulu aja.”
“Gini deh, lo ketemu dulu sama orangnya. Ntar kalau nge-rasa gak cocok, lo boleh lepasin deh.”
“Hmm, oke, gw lakuin ini demi lo ya. Kalau lo bukan sahabat terbaik gw, gw gak bakal mau ngikutin mau lo ini.”
“Nah, gitu dong. Thank you ya darl. Gw jamin, lo gak bakal nyesel deh. High quality banget dia. Kapan lo mau ketemu sama dia?”
“Lo atur aja deh. Ntar lo tinggal konfirmasi ke gw, bisa atau gak-nya gw kabarin. Gimana?”
“Sip.”

* * *

Malam ini terasa begitu sunyi. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Namun Delza masih berkutat dengan notebook kesayangannya. Jemarinya bergerak lincah menelusuri tuts-tuts keyboard. Tugas laporan bulanan rumah sakit masih belum ia rampungkan. 3 bulan terakhir ini kesibukannya bertambah, selain berada di rumah sakit dan poliklinik untuk melayani pasien-pasiennya, ia juga harus mengurus segala keperluan pernikahan Edies. Ya, sejak didaulat menjadi bridesmaid, ia menjadi super sibuk. Jam tidurnya pun otomatis semakin berkurang. Tapi bagi Delza, dapat turut andil dalam pernikahan sahabatnya merupakan suatu kehormatan baginya. Edies telah menjadi salah satu sahabat terbaiknya sejak 13 tahun yang lalu, saat keduanya masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Tak lengkap rasanya bila ia tak ikut andil dalam kebahagiaan sahabatnya itu.

* * *

Selasa, November 02, 2010

Rain Before Sunshine - Part 2


Perlahan-lahan air mata menggenang di sudut matanya. Hatinya seperti tercabik-cabik setiap ia teringat kejadian itu. Delza pun menarik nafas dan membuangnya dengan cepat seolah ia ikut membuang rasa sesak dihatinya. Ia masih tak habis pikir, mengapa Rein, begitu mudah meninggalkannya, hanya karena orang tua Rein telah menentukan jodohnya. Batin Delza selalu bertanya-tanya, tak bisakah lelaki itu menentukan masa depannya sendiri, apa salah dan kekurangannya hingga Rein memilih menyerah begitu saja pada cinta mereka. Padahal sejak awal, hubungan mereka baik-baik saja. Orang tua Rein pun bisa menerima kehadirannya, bahkan Raisa, adik Rein satu-satunya sangat dekat dengannya. Tak jarang Raisa meminta Delza untuk menemaninya jalan-jalan. Delza dan Rein pun sudah beberapa kali membicarakan rencana masa depan masing-masing. Semuanya terasa sempurna hingga perjodohan sialan itu muncul dalam hubungannya dengan Rein.
5 tahun sudah berlalu sejak kejadian menyakitkan itu, namun hingga kini hatinya masih tertutup rapat untuk dapat menerima sosok pengganti Rein. Padahal entah sudah berapa banyak lelaki yang mencoba mendekatinya. Untuk bahagia tak selalu harus memiliki pasangan, begitu kilahnya setiap muncul pertanyaan mengapa ia tak jua mencari pasangan hidup semenjak putus dengan Rein. Ia lebih memilih menenggelamkan diri dalam kesibukannya meniti karier.

{{{

Delza melangkah cepat di koridor rumah sakit. Ia harus mem-visite pasien pagi ini. Tak dihiraukannya rasa lelah yang masih menjalari tubuhnya karena kurang istirahat semalam. Ia bergegas menuju ruang rawat VIP rumah sakit tempat salah satu pasiennya dirawat.

"Pagi, Bu. Gimana keadaannya hari ini? Sudah baikan?"
"Pagi, Dokter Delza. Alhamdulillah sudah dok, sudah jauh lebih enak. Sekarang saya sudah bisa jalan tanpa tongkat dok."
"Wah, perkembangan Ibu pesat sekali, kalau begini terus, lusa ibu sudah bisa pulang."
"Terima kasih banyak dok. Untung dokter sabar menghadapi saya."
"Jangan berterima kasih sama saya bu, Ibu yang hebat bisa berjuang sekeras ini untuk bisa sembuh" ujarnya sembari tersenyum.
"Dok, saya boleh tanya sesuatu?"
"Boleh Bu, apa itu?"
"Dokter sudah punya pacar belum?"
"Ah, Ibu ini. Masih sama seperti kemarin Bu, saya masih jomblo. Hahaha."
"Masa masih belum ada yang nempel sih Dok, kan banyak dokter-dokter yang ganteng di sini."
Delza tersenyum simpul.
"Saya kan mau ngerawat Ibu dulu sampai benar-benar sembuh, biar nanti bisa mencarikan saya jodoh." ujarnya sedikit bergurau.
"Hahaha, Dokter ada-ada saja."

2 bulan yang lalu, Bu Marni, begitu ia menyapa pasiennya, datang karena kecelakaan lalu lintas parah yang merenggut nyawa anak semata wayangnya dan membuatnya lumpuh. Keadaan ini membuat Bu Marni sangat terpukul hingga tak mau diterapi. Tapi Delza selalu bersikeras menyemangatinya untuk mengikuti serentetan fisioterapi. Hampir sebulan Delza membujuk Bu Marni mengikuti fisioterapi hingga akhirnya pasien yang ia sudah ia anggap seperti ibunya ini menuruti anjurannya. Dan kini Delza bisa tersenyum puas melihat kesembuhan pasiennya.

{{{

Rrrr...Rrrr..
Delza melirik sekilas ke arah ponselnya yang bergetar.

Edies calling...

"Deeeeeel, lo di mana sih? Masih lama gak? Gw udah nunggu dari tadi nih. Udah jamuran gw di sini nungguin lo." suara di seberang sana langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Hehehe, 10 menit lagi gw nyampe sana. Tadi pas mau berangkat gw ada pasien baru. Sabar ya."
"Ok. Ok. Gw di cafe-nya ya. Buruan dateng. Ga enak nih gw kelamaan ngopi sendirian di sini."
"Siap Bos. Hehehe."
"Ok. See you."
"Bye."

Delza mempercepat laju mobilnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04. 45 sore, itu artinya ia sudah terlambat 45 menit dari janjinya dengan Edies, sahabatnya sejak duduk di bangku SMP. Dan jalanan sudah mulai padat oleh kendaraan para karyawan yang baru pulang kerja.

Tin tin tiiiiiiiiin...
Tak henti-hentinya ia membunyikan klakson Suzuki SX4 hitamnya ketika ada kendaraan yang berjalan lambat di depannya. Tak sampai hati membiarkan sahabatnya itu menunggu lebih lama lagi. Tak biasa baginya datang terlambat pada sebuah janji. Namun apa daya, pekerjaannya sebagai seorang dokter kadang tak kenal waktu. Saat ada pasien gawat, itulah yang harus ia nomor satukan di atas segala kepentingan lainnya.

{{{

Delza memasuki cafe, matanya menjelajah ke setiap sudut ruangan mencari sosok Edies. Yang dicari langsung melambaikan tangannya begitu melihat Delza berdiri di dekat pintu masuk.

"Sorry, sorry, telat banget ya gw." ujarnya saat tiba di meja Edies.
"Iya ga apa-apa. Gw udah sadar kok sama risiko gawean lo itu."
"Hehehe, makasih sayang." 
"Lo mau pesen minum dulu gak?"
"Gak usah Dies, tadi gw barusan minum. Kita langsung ke butik aja yuk."
"Ya udah, gw bayar minumannya dulu ya." ujar Edies sambil memanggil waitress.

Setelah selesai membayar minuman, Edies dan Delza berjalan menuju butik yang ada di lantai 2 gedung tersebut. Minggu lalu, Edies menelepon dan memintanya untuk menemaninya ke butik langganan mereka untuk memesan sebuah kebaya pengantin. Ya, sahabatnya itu akan menikah 6 bulan lagi setelah bertunangan selama 1 tahun.

Kamis, Oktober 28, 2010

Rain Before Sunshine - Part 1


Dinginnya malam mulai menusuk tulang. Kesunyian mulai menghampiri. Harusnya Delza sudah masuk ke alam bawah sadarnya, menyiapkan energi untuk aktivitas esok hari. Entah apa yang sedang mengusik pikirannya, hingga ia masih terdiam di balkon kamar. Matanya tak jua bisa terpejam meski ia telah mencoba merebahkan diri di peraduannya setengah jam yang lalu. Tapi matanya tak bisa diajak kompromi. Mungkin masih ingin menikmati indahnya langit malam. Langit memang nampak lebih cerah dari biasanya. Kerlap-kerlip bintang seolah memanggil seraya membujuk agar ditemani. Semilir angin memainkan lembut rambut panjangnya yang terurai. Seakan ingin mengajaknya berdansa di tengah kegelapan malam. Tatapannya menerawang, menembus semesta seolah mencari sesuatu yang selama ini belum dapat ia temukan. Sedang apa ia di sana, gumamnya.
 Ingatannya melompat pada kejadian 5 tahun yang lalu. Saat itu,ia dan Rein, kekasihnya, sedang merayakan hari jadi mereka yang ke-3. Menghabiskan malam itu dengan berbagi keceriaan berdua. Diawali dengan makan malam romantis di sebuah cafe yang sengaja dipesan Rein untuk mereka berdua. Lalu menikmati langit malam di taman kota sembari berbagi cerita tentang kenangan masa lalu saat mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA. Saling menertawakan kebodohan masing-masing kala itu. Tiba-tiba Rein terdiam.

"Rein, kamu gak apa-apa?" tanya Delza khawatir.
"Aku gak apa-apa Del. Tapi..."
"Tapi apa Rein?"
"Ada satu hal yang mau aku sampaikan sama kamu."
"Apa itu? Pentingkah?"
"Ya, sangat penting bagiku. Tapi aku mohon, kamu jangan marah sama aku."
"Kenapa Rein? Jangan bikin aku khawatir dong."
"Del..." Rein tertunduk lesu "Kita gak mungkin sama-sama lagi."
"Kenapa Rein? Karena kamu mau melanjutkan kuliah ke Amerika? Kita kan masih bisa long distance. Aku siap kok."
"Bukan itu masalahnya Del."
"Terus apa? Bilang sejujurnya Rein."
"Orang tuaku mau menjodohkan aku dengan anak teman bisnis Papa."
"Terus kamu mau?"
"Aku gak bisa apa-apa lagi Del. Aku gak bisa nolak permintaan mereka. Aku gak mau jadi anak durhaka."
"Itu artinya, kamu udah gak sayang sama aku?"
"Aku sayang sama kamu, bahkan lebih dari yang kamu tahu. Tapi aku gak bisa Del."
"Kamu pengecut Rein."

Delza berlari menembus kegelapan malam seorang diri sembari menahan air mata yang memaksa untuk keluar. Tak dihiraukannya teriakan Rein. Sejak saat itu, ia tak pernah bertemu dengan Rein lagi. Meskipun berulang kali Rein menghubunginya dan mencoba datang ke rumahnya, ia selalu menolaknya mentah-mentah. Terlalu sakit baginya untuk dapat melihat wajah yang pernah ia kasihi itu.

 Dasar pengecut, batinnya.