Welcome to NenkDyDy...

Yuk cari tau tentang dunia kesehatan, tips, atau bahkan tulisan iseng aku di sini...moga smuanya bisa bermanfaat yaa dan...selamat menikmati... ^^
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 02, 2010

6 Kesalahan Saat Merampingkan Perut



Tak bisa dipungkiri, bagian dari tubuh kita yang paling sulit diperbaiki adalah perut. Jikapun dalam posisi berdiri perut Anda terlihat ramping, begitu duduk, maka tampaklah perut yang menggelambir. Ketika Anda sudah berhasil menurunkan berat badan, bagian perut sering kali masih terlihat sedikit membuncit.

Namun, bila latihan perut yang Anda lakukan belum juga menampakkan hasil, ada kemungkinan Anda melakukan beberapa kesalahan saat melakukannya. Berikut beberapa di antaranya:

Kesalahan #1: Agar perut kencang, latihan pengencangan perut harus dilakukan setiap hari.
Perut pun butuh istirahat dan memulihkan diri. Hanya saat beristirahat, otot-otot terbangun. "Latihan perut secara konsisten tiga hingga lima hari seminggu bisa menghasilkan perut yang kuat dan kencang," kata Kathy Kaehler, trainer dan penulis buku Kathy Kaehler's Celebrity Workouts.

Kesalahan #2: Latihan perut yang baik harus dilakukan 1/2 jam.
"Jika harus memakan waktu begitu lama agar manfaatnya terasa, Anda pasti salah," kata Kaehler. Menurutnya, ia melatih Jennifer Aniston sekitar tiga hari seminggu, dan latihan perut itu sendiri dilakukan tidak lebih dari 5 menit setiap latihan. Fokuslah pada kualitasnya, bukan kuantitasnya.

Kesalahan #3. Latihan "crunch" yang sangat lambat membuat perut Anda lebih kuat.
Latihan crunch dilakukan dengan berbaring dengan lutut tertekuk, mengangkat kepala, leher, dan pundak. Otot perut dirapatkan, kemudian kepala, leher, dan pundak diturunkan kembali perlahan-lahan.

Namun, mempertahankan posisi kepala yang terangkat selama 1 menit tidak menjamin otot perut Anda lebih kuat. Bahkan, latihan perut yang dilakukan sangat lambat mungkin kurang efektif. Idealnya, latihan tersebut bisa membantu Anda melakukan gerakan lebih baik, dari kickboxing hingga mengangkat koper. Tak satu pun dari gerakan ini dilakukan dengan lambat, kan?

Kesalahan #4: Waktu terbaik untuk melatih perut adalah pada akhir sesi latihan.
"Tidak ada perbedaan fisiologis ketika Anda melatih perut (pada akhir latihan), kecuali bila Anda melakukannya secara konsisten," kata peneliti perut dan ahli terapi fisik Gilbert Willett, MS, yang juga profesor tamu di University of Nebraska Medical Center.

Jadi, tidak ada waktu terbaik untuk latihan otot perut. Anda bisa melakukannya kapan saja. Namun, kalau Anda melatih otot perut pada awal sesi latihan olahraga, pastikan Anda melakukan pemanasan lebih dulu. Bila aliran darah sudah lancar, maka berbagai tipe cedera selama latihan bisa dicegah. 

Kesalahan #5: Anda tidak bisa membentuk perut "six-pack" dengan pilates.
"Pilates melatih otot pusat. Jadi, jika Anda melakukannya secara teratur dan mengombinasikannya dengan diet dan latihan kardio, pilates juga bisa membentuk perut Anda jadi six-pack," ungkap Kimberly Lyons, personal trainer di Los Angeles.

Meskipun demikian, jangan menganggap bahwa latihan Pilates menjamin perut jadi six-pack. "Bagaimana tampilan perut Anda, hal itu tergantung pada gen Anda, juga seberapa rampingnya Anda, berapa panjang torso Anda, dan tinggi badan Anda," katanya. 

Kesalahan #6: Tubuh Anda tidak akan kencang tanpa latihan beban
Anda tidak membutuhkan beban untuk membentuk perut yang seksi, meskipun beberapa atlet memang menggunakannya untuk membangun kekuatan ekstra. Mengapa begitu? "Banyak peralatan beban untuk perut tidak didesain untuk kaum perempuan," ungkap Lyons. "Jika tubuh Anda tidak bisa menyesuaikan diri dengan alat dalam kondisi semestinya, maka Anda malah bisa menekan tubuh Anda di bagian yang salah."

Saran Lyons, tetaplah berlatih dengan memanfaatkan tubuh Anda, seperti latihan push-up, crunch, atau plank: murah, efektif, dan bisa dilakukan di mana saja.


Sumber : female.kompas.com

Minggu, Juli 11, 2010

Teh Hijau (Green Tea)


Apakah Teh Hijau Itu ?

Apakah teh hijau berbeda dengan teh yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat ? Kita mengenal 3 macam teh yang diminum :

·      Teh hitam (black tea, teh merah) :

Daun teh difermentasi seluruhnya 100%, merupakan teh yang umum dikonsumsi di masyarakat

·      Teh oolong :

Daun teh hanya difermentasi 50%

·      Teh hijau :

Daun teh tidak mengalami fermentasi, hanya dikeringkan saja dengan pemanasan dan penguapan untuk menginaktivasi enzim polifenol oksidase

 

Sejarah Pohon Teh

Teh sebagai minuman obat telah dikenal sejak tahun 2700 SM di negeri Cina, yang kemudian dibawa ke Jepang dan menyebar ke seluruh dunia.

Teh berasal dari pohon teh yang disebut Camellia sinensis. Pohon teh yang berasal dari daerah Assam di India, dikenal dengan varietas Assamica, sedangkan yang berasal dari dataran Cina dan Asia Timur dikenal dengan varietas Sinensis.

Sebagian besar pohon teh di Indonesia adalah varietas dari Assamica, meskipun demikian ada beberapa perkebunan yang menanam pohon teh dari varietas Sinensis.

Pohon teh di Indonesia mulai dikenal sejak tahun 1686 pada waktu penjajahan Belanda, seorang Belanda yang bernama Dr. Andreas Cleyer yang membawa pohon teh ke Indonesia.

 

Manfaat Teh Hijau

·      Sebagai anti kanker di perut, payudara, kandungan, prostat, rongga mulut dll

·      Sebagai ani mikroba

·      Mencegah aterosklerosis

·      Menurunkan angka kejadian penyakit kardiovaskuler dan stroke, teh hijau memiliki efek pelindung jantung, khususnya apabila mulai dikonsumsi sebelum terjadi pengerasan arteri

·      Mencegah penyakit ginjal

·      Anti diabetes

·      Meningkatkan daya imunitas/kekebalan tubuh

·      Mencegah penyakit Parkinson

·      Menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida

·      Mencegah karies gigi

·      Mencegah napas berbau

·      Sebagai diuretika

·      Mencegah oksidasi

·      Mencegah osteoporosis

·      Memperlambat proses penuaan dan memperpanjang umur karena aktivitas antioksidan

·      Menurunkan berat badan/melangsingkan tubuh

·      Dan lain-lain

 

Manfaat-manfaat tersebut di atas berbeda pada setiap orang dan bersifat individual, yaitu reaksi atau manfaat yang dirasakan akan berbeda pada setiap orang. Sebagian besar khasiat teh hijau disebabkan adanya senyawa polifenol yaitu katekin. Selain katekin, masih banyak senyawa-senyawa lain yang ditemukan dalam daun teh, antara lain kafein, tannin, vitamin, mineral.

Komposisi bermacam-macam katekin dalam teh hijau adalah sebagai berikut :

Katekin                          : 1-2%

Epikatekin                     : 1-3%

Epikaekin galat             : 3-6%

Gallokatekin                  : 1-3%

Epigallokatekin             : 3-6%

Epigallokatekin galat    : 7-13%

Kandungan katekin pada varietas Assamica lebih banyak tetapi varietas Sinensis memiliki aroma yang lebih baih karena kandungan asam aminonya lebih tinggi.

 

Cara Menyeduh Teh Hijau

·      Satu sendok teh (2,5 gram) teh hijau diletakkan dalam penyaring teh dalam poci tanah atau porselen dan diseduh dengan air panas yang telah mendidih

·      Suhu air panas sebaiknya antara 80-90oC, atau air mendidih yang dibiarkan dahulu selama 5 menit

·      Teh hijau yang telah diseduh dengan air panas tersebut dibiarkan terendam selama 2-5 menit, kemudian daunt eh dalam penyaring teh diangkat dan dikeluarkan dari poci

·      Teh yang telah diangkat dapat diseduh sekali lagi selama 2-5 menit dengan air panas

·      Setelah penyeduhan kedua, ampas teh hijau sebaiknya tidak diseduh lagi dan dibuang

·      Pembuatan teh hijau jangan dilakukan di dalam poci / panic aluminium atau stainless steel, karena akan memberikan reaksi yang kurang baik pada peminum teh, antara lain nyeri lambung, mual, bahkan sampai kolik lambung atau usus

·      Penyeduhan teh jangan terlalu lama atau lebih dari 5 menit, karena akan menyebabkan pengeluaran zat tanin dari dalam daun teh. Zat tanin juga dapat menyebabkan nyeri lambung atau nyeri perut, bahkan sampai kolik abdomen

·      Larutan teh hijau yang telah siap dikonsumsi, sebaiknya diminum sesudah makan dalam keadaan hangat, jangan terlalu panas karena berisiko terkena kanker oesophagus (kerongkongan)

·      Larutan teh hijau sebaiknya tidak dicampur dengan gula atau pemanis lainnya karena akan mengubah aroma teh hijau

 

Dosis Teh Hijau

Dosis yang terbukti bermanfaat adalah 5-6 cangkir sehari.

Bagi peminum teh hijau, lanjutkanlah kebiasaan itu. Bila Anda baru memulai minum teh hijau, minumlah secara teratur dan Anda akan mendapatkan manfaatnya walaupun dalam waktu yang panjang

 

Sumber : Forum Komunikasi FK UK. Maranatha edisi Juni 2007

Kamis, Mei 28, 2009

Ubah Gaya Hidup Pada Penderita Diabetes


Penyakit diabetes atau kencing manis merupakan penyakit yang sulit dikendalikan hanya dengan obat. Penanganan yang baik pada penderita diabetes selain dengan obat-obatan adalah dengan mengubah gaya hidup si penderita. Contohnya melalui program diet dan olah raga / latihan fisik.
Diet

Diet bagi penderita diabetes mellitus berupa pembatasan kalori total makanan yang dikonsumsi. Tujuannya adalah untuk mengendalikan kadar gula darah agar tetap berada di antara nilai-nilai normal. Dasar diet ini adalah memberikan kalori yang cukup dan komposisi yang memadai, dengan memperhatikan jumlah makanan, jadwal makan dan komposisi makanan.
  • Jumlah makanan harus disesuaikan dengan jumlah kalori yang dibutuhkan setiap harinya. Kebutuhan ini berdasarkan berat badan (obesitas, kurus, atau ideal), jenis kelamin, usia, cara hidup atau kegiatan pekerjaan (pekerja fisik atau karyawan kantor)

Ringan : terutama duduk, berbaring, dan berjalan di rumah

Sedang : kerja duduk dengan aktivitas olah raga ringan

  • Jadwal makan umumnya dibagi menjadi 6, yaitu 3 porsi besar dan 3 porsi kecil. Pembagian ini berdasarkan jumlah kalori yang dibutuhkan. Dilakukan untuk membagi rata asupan kalori sepanjang hari sehingga dapat menghindari kenaikan kadar gula darah yang tinggi.
Karbohidrat ± 68 % dari total kalori
Jenis karbohidrat yang dianjurkan terutama polisakarida seperti dari gandum (roti, bakmi, makaroni), nasi, kentang, ubi dan jagung. ± 5 % dapat diberikan berupa mono atau disakarida, misalnya glukosa, fruktosa atau gula pasir dalam bentuk jam/selai manis atau buah yang matang, sukrosa tidak lebih dari 10 % total asupan energi.

Protein ± 12 % dari total kalori
Protein hewani terutama diperoleh dari ikan, seafood, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, dan putih telur, sedangkan protein nabati dapat diperoleh dari kacang-kacangan misalnya tahu, tempe dan kacang

Lemak ± 20 % dari total kalori
Sebaiknya diambil dari minyak nabati dan sedikit dari lemak hewani. Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori. Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain daging berlemak dan susu penuh (whole milk)

Garam 6-7 g (1 sdt)garam dapur

Serat ± 60 g
Dapat diperoleh dari ± 350 g sayur-mayur, buah-buahan dan kacang-kacangan.

Pemanis
Pemanis yang bergizi adalah gula alkohol (isomalt, maltitol, mannitol, sorbitol, dan xylitol) yang mengandung 2 cal/g dan fruktosa. Namun fruktosa tidak dianjurkan pada penderita diabetes karena efek sampingnya pada lipid plasma.

Olah raga / latihan fisik
Semua penderita dianjurkan untuk berolah raga secara teratur setiap harinya selama ± 20 menit. Latihan dilakukan 1,5 jam sesudah makan. Prinsipnya dikenal dengan istilah RIPE (Continuous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurance).

Gizi

Jadwal pemberian makanan
  • Jam 06.00 – 07.00 makan pagi (20-30%)
  • Jam 09.00 – 10.00 makanan selingan (5-10%)
  • Jam 12.00 – 13.00 makan siang (30%)
  • Jam 15.00 – 16.00 makanan selingan (5-10%)
  • Jam 18.00 – 19.00 makan malam (30%)

Makanan selingan dianjurkan buah

Bahan makanan sumber KH yang baik : tinggi KH kompleks, tinggi serat, rendah indeks glikemik. Contohnya : beras tumbuk, jagung dan buah berair banyak (melon, semangka)

Bahan makanan sumber protein hewani yang baik : mengandung lemak dengan PS ratio >1, rendah kolesterol. Contohnya : daging kurang lemak, ikan, ayam tanpa kulit, putih telur

Bahan makanan sumber lemak nabati yang baik : minyak jagung, kedelai, minyak dengan tinggi MUFA (Mono Unsaturated Fatty Acid) seperti zaitun dan sawit.

Buah yang baik : berair banyak à mengandung banyak serat yang larut air à mengenyangkan dan menghambat absorpsi glukosa dan lemak.

Sayuran yang baik : bukan pucuk dan kecambah à banyak mengandung asam nukleat à meningkatkan kadar asam urat

Bahan makanan yang tidak baik bagi penderita DM :
  • Sumber KH dengan indeks glikemik tinggi. Umumnya berbentuk cair/lembek, sangat terolah dan rendah serat. Contoh : permen, coklat, softdrink, makanan dari tepung (terigu dan kanji), bubur, dll.
  • Buah : pisang, nangka, durian, sawo, salak, semua buah yang di jus
  • Sumber lemak yang rendah PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) dan MUFA serta tinggi SAFAI. Contohnya : kelapa, butter
  • Sumber protein/lemak : jeroan, otak/sumsum, kulit, keju, kuning telur, dan makanan yang dicampur dengan kuning telur/keju (kue, biscuit, mie, pizza, dll)

Minggu, Desember 21, 2008

Tonsilitis (amandel)

Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsila palatine yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Biasanya penyakit ini disebabkan oleh Streptococcus β haemoliticus grup A, Pneumococcus, Streptococcus viridians, Streptococcus pyogenes, virus Haemophilus influenza atau tuberculosis pada keadaan immunocompromise. Secara umum, tonsilitis dibagi menjadi 2 menurut lamanya penyakit, yaitu tonsilitis akut dan kronik. Berdasarkan penyebabnya, dapat dibagi menjadi 2 juga, yaitu tonsilitis viral (karena virus) dan tonsilitis bacterial (karena bakteri). Sedangkan berdasarkan bentuknya, tonsilitis dibagi menjadi tonsillitis lakunaris (tonsillitis yang mempunyai pseudomembran bercak-bercak) dan tonsillitis folikularis (tonsillitis yang mempunyai pseudomembran berbintik-bintik).Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya tonsilitis yang kronik misalnya rangsangan kronik (rokok, makanan), hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah), alergi (iritasi kronis dari alergen), dan keadaan umum yang kurang baik (kurang gizi, kelelahan fisik).

Stadium pembesaran tonsil
(berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring)
  • To : tonsil masuk dalam fossa / tonsil tidak membesar
  • T1 : <>
  • T2 : 25-50 % volume tonsil dibandingkan dengan orofaring
  • T3 : 50-75 % volume tonsil dibandingkan dengan orofaring
  • T4 : > 75 % volume tonsil dibandingkan dengan orofaring

Gejala Klinik

Tonsilitis Akut

  • Masa inkubasi 2-4 hari
  • Nyeri tenggorok, nyeri waktu menelan
  • Demam dengan suhu tubuh yang tinggi
  • Rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi
  • Tidak nafsu makan, rasa nyeri di telinga [karena nyeri alih (reffered pain) melalui N.IX]
  • Pada pemeriksaan : tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat detritus.
  • Kelenjar submandibula membengkak & nyeri tekan.
Tonsilitis kronis eksaserbasi akut
  • Demam
  • Nyeri menelan
  • Nyeri tenggorok

Tonsilitis Kronis

  • Pada pemeriksaan : tonsil membengkak disertai permukaan tidak rata, kripta melebar dan beberapa kripta terisi oleh detritus.
  • Rasa ada yang mengganjal di tenggorok
  • Dirasakan kering di tenggorok
  • Napas berbau tidak sedap.

Dasar diagnosis

  • Nyeri tenggorokan berulang atau menetap
  • Obstruksi pada penelanan atau pernapasan
  • Rasa kering dan iritasi pada tenggorokan
  • Rasa sakit saat bernapas
  • Pasien mengeluh ada penghalang di tenggorokan dan pernapasan berbau
  • Perubahan suara – hot potato voice
  • Mungkin pembesaran KGB.

Tonsilitis Akut :

  • Odynophagia (nyeri menelan)
  • Demam tinggi mendadak + mengigil (bisa sampai 40oC atau dapat sampai 104oF)
  • Rasa lesu di seluruh tubuh – malaise
  • Rasa nyeri sendi
  • Anoreksia – menolak makan/minum melalui mulut
  • Sakit kerongkongan; rasa gatal dan kering di tenggorok
  • Bila laring terkena suara serak
  • Dysphagia
  • Foetor ex ore (nafas berbau)
  • Referred otalgia

Tonsilitis Kronis

  • Kelanjutan dari tonsillitis akut yang tidak sembuh (riwayat)
  • Merupakan penyakit paling sering dari semua penyakit tenggorok berulang.
  • Rasa ada yang mengganjal di tenggorok, kering di tenggorok, nafas berbau.
  • Cephalgi
  • Tak enak badan
  • Anoreksia
  • Tonsil membesar – tidur mengorok
  • Tonsil membesar – tanda ↓ O2, bila berkepanjangan (terus menerus mengantuk sehingga prestasi & produktivitas ↓, serangan jantung / stroke)
Penatalaksanaan
  • Perubahan gaya hidup
  • Perbanyak asupan cairan [cairan yang hangat seperti sup, kaldu dan teh merupakan pilihan yang baik]
  • Obat kumur : Efektivitasnya masih dipertanyakan namun secara klinik, berkumur yang dilakukan dengan rutin menambah rasa nyaman pada Os dan mungkin mempengaruhi beberapa tingkat perjalanan penyakit. Os diberi petunjuk untuk menggunakan 3 gelas penuh cairan obat kumur setiap kali. Gelas ke-1 sebaiknya hangat sehingga Os dapat menahan cairan dengan rasa enak. Gelas ke-2 dan ke-3 dapat lebih hangat. Os dianjurkan untuk menggunakan cairan obat kumur setiap 2 jam. Ramuan-ramuan obat berikut juga berguna sebagai obat kumur :
# Cairan saline isotonik (1/2 sdt garam dalam 8 ounces air hangat)
# Bubuk sodium perborat (1 sdt bubuk dalam 8 ounces air hangat)
1 ounce = 28 gram

# Gunakan madu dan lemon
* Aduk madu dan lemon ke dalam segelas air panas, biarkan agak dingin sebelum
meminumnya.
* Madu membantu melapisi dan melembutkan tenggorok.
* Lemon membantu mengurangi mucus
* Jangan gunakan madu atau sirup jagung pada anak usia <>

# Gunakan humidifier untuk melembabkan udara, pastikan mengganti air setiap hari dan
membersihkan alat minimal 3 hari sekali.
# Menghindari asap rokok dan polusi udara lainnya
# Mengurangi frekuensi berbicara
# Antibiotik

Tonsillitis akut
  • 1st line-drug : penicillin

Tonsillitis kronik dan hyperplasia tonsiler obstruktif
  • terapi dengan antibiotik yang efektif terhadap mikroorganisme yang memproduksi β-lactamase seperti amoxicillin-clavulanat atau clindamycin selama 3-6 minggu mungkin benefit dan mengurangi indikasi tonsilektomi pada sekitar 15% anak-anak
  • Tonsilektomi
Tonsilektomi sudah terbukti efektif mengurangi jumlah infeksi dan gejala dari tonsillitis kronis seperti halitosis, radang tenggorok yang persisiten atau rekurens dan adenitis servikal yang rekurens

Indikasi & American Academy of Otolaryngology and Head and Neck Surgery

Indikasi absolut :
  • Pembesaran tonsil disertai obstruksi jalan napas atau dysphagia berat, gangguan tidur atau komplikasi kardiopulmonal
  • Abses peritonsiler
  • Tonsillitis yang menyebabkan kejang demam
  • Tonsil yang perlu dilakukan biopsi seperti pada neoplasma atau untuk mengobati perdarahan rekurens dari pembuluh darah tonsil yang superfisialis

Indikasi relatif :
  • Infeksi tonsil 3x dalam setahun walau telah diberi terapi adekuat
  • Bau napas yang persisten akibat tonsillitis kronis yang tidak ada respons terapi medis
  • Tonsillitis kronik atau rekurens dari karier Streptococcus yang tidak memberikan respons terhadap antibiotik yang resisten terhadap β-lactamase
  • Hipertrofi tonsil unilateral yang mungkin menjadi neoplasma

Indikasi menurut Studi di Children’s Hospital of Pittsburgh :
  • Rekurens yang kambuh 7x atau lebih dalam 1 tahun, atau 5x atau lebih dalam 2 tahun berturut-turut atau 3x atau lebih dalam 3 tahun berturut-turut

Indikasi menurut Buku Ajar Ilmu Bedah

Terdapat penyulit seperti :
  • Komplikasi kardiopulmonal akibat obstruksi kronik jalan napas
  • Abses faringeal atau peritonsiler
  • Dysphagia dengan penurunan nafsu makan

Indikasi khusus untuk anak :
  • Rekurens yang kambuh lebih dari 3x
  • Tonsil hipertrofik menyebabkan obstruksi misalnya terjadi gangguan menelan
  • Hyperplasia setelah infeksi mononucleosis
  • Riwayat demam reumatik dengan gangguan jantung yang berhubungan dengan tonsillitis kronik yang sukar diatasi dengan antibiotik

Kontra Indikasi :
  • Kelainan hematologik : anemia, gangguan sistem hemostasis, leukemia
  • Kelainan alergi-imunologik : penyakit alergi pada saluran pernapasan (kecuali didapatkan sumbatan karena pembesaran tonsil, dan pengobatan telah > 6 bulan)
  • Terdapat infeksi akut lokal kecuali bila disertai sumbatan saluran napas atas
  • Penyakit sistemik yang tidak terkontrol : diabetes dan penyakit kardiopulmonal

Teknik tonsilektomi :

Cara Guillotine

  • Sudah jarang dilakukan, di RSCM hanya dilakukan pada anak-anak dalam anastesi umum
  • Perdarahan yang terjadi lebih sedikit daripada dengan cara diseksi
  • Cara :
  1. Posisi pasien telentang dalam anastesi umum, operator di sisi kanan berhadapan dengan pasien
  2. Setelah relaksasi sempurna otot faring dan mulut, mulut difiksasi dengan pembuka mulut. Lidah ditekan dengan spatula.
  3. Untuk tonsil kanan, alat guillotine dimasukkan ke dalam mulut melalui sudut kiri
  4. Ujung alat diletakkan di antara tonsil dan pilar posterior, kemudian kutub bawah tonsil dimasukkan ke dalam lubang guillotine. Dengan jari telunjuk tangan kiri, pilar anterior ditekan sehingga seluruh jaringan tonsil masuk ke dalam lubang guillotine
  5. Picu alat ditekan, pisau akan menutup lubang hingga tonsil terjepit
  6. Setelah diyakini seluruh tonsil masuk dan terjepit dalam lubang guillotine, dengan bantuan jari, tonsil dilepaskan dari jaringan sekitarnya dan diangkat keluar
  7. Perdarahan dirawat


Cara diseksi

  • Di RSCM, cara ini dilakukan pada pembedahan tonsil orang dewasa dengan anastesi umum atau lokal
  • Cara :
  1. Bila menggunakan anastesi umum, posisi pasien telentang dengan kepala sedikit ekstensi. Posisi operator di proksimal pasien
  2. Pasang alat pembuka mulut Boyle-Davis gag
  3. Tonsil dijepit dengan cunam tonsil dan ditarik ke medial
  4. Dengan menggunakan respatorium/enukleator tonsil, tonsil dilepaskan dari fosanya secara tumpul dari kutub bawah dan selanjutnya dengan menggunakan jerat tonsil, tonsil diangkat
  5. Perdarahan dirawat


Cryogenic tonsillectomy

Tindakan pembedahan tonsil dapat menggunakan cara cryosurgery yaitu proses pendinginan jaringan tubuh sehingga terjadi nekrosis. Bahan pendingin yang dipakai adalah Freon dan cairan nitrogen.

Electrosterilization of tonsil

Merupakan suatu pembedahan tonsil dengan cara koagulasi listrik pada jaringan tonsil


Teknik elektrokauter

Teknik ini memakai metode membakar seluruh jaringan tonsil disertai kauterisasi untuk mengontrol perdarahan. Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio yang digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0,1 hingga 4 Mhz. Penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan konduksi saraf atau jantung.

Radiofrekuensi

Pada teknik ini radiofrekuensi elektrode disisipkan langsung kejaringan. Densitas baru disekitar ujung elektrode cukup tinggi untuk membuka kerusakan bagian jaringan melalui pembentukan panas. Selama periode 4-6 minggu, daerah jaringan yang rusak mengecil dan total volume jaringan berkurang.

Skapel harmonik

Skapel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan mengkoagulasi jaringan dengan kerusakan jaringan minimal.

Teknik Coblation

Coblation atau cold ablation merupakan suatu modalitas yang unik karena dapat memanfaatkan plasma atau molekul sodium yang terionisasi untuk mengikis jaringan. Mekanisme kerja dari coblation ini adalah menggunakan energi dari radiofrekuensi bipolar untuk mengubah sodium sebagai media perantara yang akan membentuk kelompok plasma dan terkumpul disekitar elektroda. Kelompok plasma tersebut akan mengandung suatu partikel yang terionisasi dan kandungan plasma dengan partikel yang terionisasi yang akan memecah ikatan molekul jaringan tonsil. Selain memecah ikatan molekuler pada jaringan juga menyebabkan disintegrasi molekul pada suhu rendah yaitu 40-70%, sehingga dapat meminimalkan kerusakan jaringan sekitar.

Intracapsular partial tonsillectomy

Intracapsular tonsilektomi merupakan tensilektomi parsial yang dilakukan dengan menggunakan microdebrider endoskopi. Microdebrider endoskopi bukan merupakan peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi, namun tidak ada alat lain yang dapat menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil tanpa melukai kapsulnya.

Laser (CO2-KTP)

Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2 atau KTP (Potassium Titanyl Phosphat) untuk menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil. Tehnik ini mengurangi volume tonsil dan menghilangkan recesses pada tonsil yang menyebabkan infeksi kronik dan rekuren

Perawatan pasca tonsilektomi :

  • Baringkan pasien pada satu sisi tanpa bantal
  • Ukur nadi dan tekanan darah secara teratur
  • Awasi adanya gerakan menelan karena pasien mungkin menelan darah yang terkumpul di faring
  • Napas yang berbunyi menunjukkan adanya lendir atau darah di tenggorok


Adenoidektomi

Indikasi :

  • Terapi adenoiditis kronik
  • Kegagalan terapi sinusitis kronik
  • Otitis media akut yang rekurens
  • Otitis media kronik atau persisten yang disertai dengan efusi


Pencegahan
  • Cuci tangan sesering mungkin untuk mencegah penyebaran virus dan bakteri yang menyebabkan tonsillitis
  • Menghindari kontak lama dengan penderita radang tenggorok sampai 24 jam setelah pemberian antibiotik
  • Menghindari penggunaan peralatan makan bersama-sama Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam.
  • Jangan minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan.
  • Berkumur air garam hangat 3-4 kali sehari.
  • Menaruh kompres hangat pada leher setiap hari.
  • diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi. Berikut ini beberapa contoh ramuan tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk radang amandel (tonsilitis).
  • Bubuk sambiloto sebanyak 3 - 4,5 gram diseduh dengan 200 cc air panas, tambahkan 1 sendok makan madu, diaduk, lalu diminum hangat-hangat. Atau 30 gram sambiloto segar/15 gram yang kering, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya ditambahkan 200 cc jus buah nanas, diaduk, lalu diminum untuk 3 kali sehari, setiap kali minum 200 cc. (untuk tonsilitis akut) .
  • 2 buah mengkudu/pace matang + 20 gram kunyit, dicuci dan dihaluskan, disaring dan diambil airnya, tambahkan air perasan 1 buah jeruk nipis, dan 1 sendok makan madu, diaduk, lalu diminum. Lakukan 2-3 kali sehari. (untuk tonsilitis akut).
  • 30 gram benalu jeruk nipis atau benalu teh + 30 gram temu putih + 10 gram sambiloto kering + 20 gram kunyit, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk dua kali sehari, setiap kali minum 200 cc. (Untuk tonsilitis kronis dengan pembesaran tonsil yang agak besar).
  • 10 lembar daun cocor bebek dihaluskan atau dijus, airnya digunakan untuk berkumur di tenggorokan. Lakukan 2-3 kali sehari.
  • 30-60 gram akar kembang pukul empat dijus, airnya digunakan untuk berkumur di tenggorokan, lalu ditelan. Lakukan 2 kali sehari.

Komplikasi

Lokal :

  • abses peritonsilar
  • abses retrofaring
  • otitis media akuta
  • tonsilitis kronika
Sistemik
  • septikemia
  • endokarditis
  • Glomerulosnefritis akuta
  • Poliarthritis akuta
  • Saat pembedahan : perdarahan dan trauma akibat alat (kerusakan jaringan di sekitarnya seperti kerusakan jaringan dinding belakang faring, bibir terjepit, gigi patah atau dislokasi sendi temporomandibula saat pemasangan alat pembuka mulut)
Komplikasi pasca pembedahan

Immediate complication

  • Perdarahan segera atau perdarahan primer : perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama pasca bedah, lebih sering pada tonsilektomi cara guillotine
  • Komplikasi yang berhubungan dengan anestesi : lendir, bekuan darah, tampon yang tertinggal dapat menyebabkan asfiksia
Intermediate complication
  • Perdarahan sekunder : perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pasca bedah, umumnya terjadi pada hari ke 5-10. Penyebab tersering adalah infeksi serta trauma akibat makanan, ikatan jahitan yang terlepas, jaringan granulasi yang menutupi fossa tonsil terlalu cepat terlepas sebelum luka sembuh sehingga pembuluh darah di bawahnya terluka dan terjadi perdarahan
  • Hematom dan oedem uvula
  • Infeksi
  • Komplikasi paru
  • Otalgia : merupakan nyeri alih dari fossa tonsil, tetapi kadang-kadang merupakan gejala otitis media akut karena penjalaran infeksi melalui tuba Eustachii
Late complication
  • Jaringan parut di dalam palatum molle. Bila berat, gerakan palatum terbatas dan menimbulkan rinolalia (suara hidung akibat beberapa penyakit atau gangguan di lubang hidung)
  • Adanya sisa jaringan tonsil à bila banyak dapat menimbulkan tonsillitis akut atau abses peritonsil

Prognosis
  • Gejala tonsilitis biasanya berkurang setelah 2-3 hari sejak awal pengobatan